|
Catatan Akhir Ramadlanku 7: Utopia versus Heteropia: Mohon Maaf Lahir Batin |
|
Written by Saiful Arif
|
|
Sunday, 05 October 2008 13:15 |
|
SETELAH saya mengirimkan ratusan SMS Lebaran permintaan maaf dan membalas SMS Lebaran dengan isi kurang lebih sama, saya termenung sendirian. Pertama, adakah SMS saya tersampai dan dibaca dengan benar-benar bahwa saya sedang meminta maaf atas koleksi kesalahan saya kepada semua sahabat, saudara, handai tolan dan dari sedikit mereka yang kukenal, dan/atau kedua, sungguh-sungguhkah permaafan lahir dan batin yang saya terima itu, dan bukan sekedar ritus saling berkirim SMS di masa Lebaran, juga bukan sekedar rasa sungkan tidak membalas SMS?
|
|
Catatan Akhir Ramadlanku 6: Imagologi Lebaran: Dari Embok, Saussure sampai Lyotard |
|
Written by Saiful Arif
|
|
Sunday, 05 October 2008 13:12 |
|
“LEBARAN kali ini sepi ya,” ujar seorang Mbok saat kami berkunjung ke rumahnya. Kalimat pernyataan sekaligus kesimpulan seperti ini sering saya dengar di beberapa rumah yang kami kunjungi untuk berlebaran. Setahun dua tahun lalu juga saya mendengar statemen ini. Maksud dari “lebaran kali ini sepi” yang saya (dan Mbok) pahami sebenarnya lebih menunjuk pada situasi di mana proses anjangsana, silaturrahmi, saling bertamu 2 sampai 5 menit di antara tetangga yang tak lagi “seramai” tahun-tahun sebelumnya. Lebaran versi Indonesia pada intinya adalah tradisi yang demikian. Entahlah bagaimana budaya itu bermula, saya juga mengingat semasa kecil, lebaran selalu saya (dan teman-teman sepermainan) isi dengan berkunjung kesana kemari bahkan dengan tujuan untuk mencari angpao.
|
|
Catatan Akhir Ramadlanku 5: Tentang Para Pengirim Pesan Lebaran via SMS |
|
Written by Saiful Arif
|
|
Sunday, 05 October 2008 13:09 |
|
SMS lebaran menjadi media yang cukup efektif untuk berlebaran di masa modern seperti sekarang. HP bukan barang mahal, pulsa dapat dihutang, setidaknya pakai model cumi alias cuma minum upps cuma minjem he he. Anak kecil, remaja sampai orang tua, cewek cowok sampai nenek-nenek dan kakek-kakek memilih media ini karena dianggap dapat menjadi alat komunikasi yang efektif. Apalagi, kata sebuah buku yang pernah saya baca sinopsisnya di Toko Buku Gramedia, orang bisa memenangkan hadiah undian via SMS bila tahu taktiknya. Ya macam-macam guna SMS terutama di masa lebaran ini. Dan okay saya setuju …
|
|
Last Updated ( Sunday, 05 October 2008 13:22 )
|
|
Catatan Akhir Ramadlanku 4: Pawai Lebaran Orang Kampung |
|
Written by Saiful Arif
|
|
Sunday, 05 October 2008 13:07 |
|
KAMPUNGKU di ujung Kabupaten Jember ini benar-benar luas. Bila dikira-kira dengan rata-rata wilayah di perkotaan, mungkin saja satu kecamatan di kota sama dengan satu desa di wilayah ini. Begitu luas. Silakan dibayangkan, bila kami naik becak dari ujung selatan desa ke ujung utara desa, kami setidaknya harus membayar minimal Rp. 30.000,- melalui jalan normal. Bila hari lebaran seperti ini, bisa lebih mahal.
|
|
Catatan Akhir Ramadlanku 3: I Love You Emak … |
|
Written by Saiful Arif
|
|
Sunday, 05 October 2008 13:05 |
|
EMAK alias mertua saya, ibu dari Mamanya Rif’an sudah pergi ke Kalimantan Selatan, di Kabupaten Batulicin semenjak 3 bulanan lalu. Lebaran kali ini beliau ada di sana untuk menemani beberapa anak-anaknya yang sudah bermukim di sana, sebagian besar menjadi guru. Karena anak-anaknya tidak pulang, maka Emak yang mengalah mendatangi. Hmmm … Emak yang begitu mencintai anak-anaknya. Tentu, lebaran ini kami, anak-anaknya yang di Jawa, tidak bisa sungkem kepada beliau. Mungkin hanya menelepon atau kirim SMS Idul Fitri.
|
|
Catatan Akhir Ramadlanku 2: Preman Itu Bernama Sai*** ha ha ha |
|
Written by Saiful Arif
|
|
Sunday, 05 October 2008 13:01 |
|
PERJALANAN menuju Jember dari Malang pada H minus 1, seperti pada lebaran-lebaran sebelumnya, tidaklah ramai. Tidak seperti yang diberitakan televisi yang mem-blow-up mudik dari Jakarta ke kawasan Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Terminal Arjosari tidak seramai Terminal Pulogadung di Jakarta, Pelabuhan Merak-Bakauhuni, Tanjung Perak atau Terminal Bungurasih. Kami tenang memilih bis dan mendapatkannya dengan jumlah penumpang yang sangat sedikit. Kata Mama, “Kalau nanti di bis ramai penumpang, kita akan membayar tiket 3 buah, untuk kursi panjang sebelah kanan. Kalau penumpang sedikit, kita membayar 2 buah saja, karena toh anak yang kita bawa ini kecil-kecil, dan kita tetap bisa pura-pura memangku mereka.” Saya setuju.
|
|
Catatan Akhir Ramadlanku 1: Mudik dan Kebahagiaan |
|
Written by Saiful Arif
|
|
Sunday, 05 October 2008 12:30 |
|
EMPAT sampai lima hari terakhir menjelang Bulan Ramadlan tahun ini (2008) habis, rasanya semua orang hanya berpikir satu hal: Mudik! Begitu pula yang terjadi di komunitas tempat aku hidup selama ini (Averroes Community, www.averroes.id). Selain masih bercanda soal THR (Tunjangan Hari Raya) dan mengira-ngira siapa yang menyediakan buka bersama di akhir Ramadlan, mudik merupakan perbincangan yang hangat.
|
|
Written by Saiful Arif
|
|
Sunday, 28 September 2008 03:06 |
Dalam kajian anarkisme, adalah William Godwin yang masuk dengan sebuah pertanyaan mendasar tentang keadilan politik dan pengaruhnya terhadap moralitas dan kebahagiaan. Godwin mengungkap bahwa sebab-sebab patologi sosial dapat ditemukan bukanlah dalam bentuk negara tetapi karena adanya negara itu sendiri. Baginya, negara hanyalah merupakan karikatur masyarakat, dan manusia yang ada dalam cengkeraman negara hanyalah merupakan karikatur diri mereka.
Oleh Saiful Arif
MEMBACA situasi sosial kekinian, wajar kalau Benedict Anderson dalam sebuah diskusi di Surabaya, April 2006, mengingatkan akan tumbuhnya anarkisme yang berpeluang mengancam negara. Intervensi negara yang semakin membesar dan bahkan menguat atas ruang-ruang kehidupan masyarakat menjadi sumber tumbuh sumburnya anarkisme itu sendiri. Demo buruh menolak revisi UU Ketenagakerjaan; unjuk rasa guru honorer menuntut janji peningkatan status; unjuk rasa kepala desa mempertanyakan nasib dirinya, unjuk rasa kenaikan dan kelangkaan harga pupuk; penentangan yang makin meluas atas RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi yang dianggap terlalu detail mengatur seluk beluk ketubuhan manusia; konflik perebutan sumberdaya alam, isu separatisme dan suaka politik, dan berbagai gerakan sosial lainnya yang makin marak di berbagai daerah belakangan ini hanyalah sebagian soal yang mencerminkan tindakan-rakyat mempertanyakan sebagian besar tindakan-negara.
|
|
|